Monday, 14 March 2016

Camping colongan

Alkisah di suatu tepi waduk yang kadang baunya aduhai karena pakan ikan keramba, di dekat ladang warga yang ditanami ketela, di tempat itu, didekat pohon akasia, kami mendirikan tenda. Datang jauh-jauh 3 jam dari Jogja dengan niatan camping sekalian sampling.Camping dan sampling ala-ala. Entah campingnya yang ala ala, ataukah samplingnya. Eh.

Mana yang utama apakah sampling atau camping pasti tiap-tiap kami memiliki jawaban yang berbeda. Buat Manda pastilah lebih utama camping, karena ini kali pertamanya. Tapi buat Bonna, pastilah sampling lebih utama karena menyangkut masa depannya. Buat saya, tidak penting mana yang lebih penting. Yang jelas, buat saya, menikmati keduanya jauh lebih penting, sampling dan camping. Menikmati keduanya lebih dari sekedar upload photo ke social media.

Karena pada hakikatnya kita harus merayakan apa saja. Merayakan bau keramba, merayakan terbatasnya air, merayakan kamar mandi yang nggak ditutup pintunya, merayakan tenda orange, merayakan senja, merayakan sup masako, merayakan sambal dabu dabu, merayakan udara malam hari yang nggak dingin, merayakan bintang bintang di malam hari, merayakan batuk, merayakan langit biru, merayakan matahari terbit, merayakan tugas akhir yang belum kelar-kelar dan pastinya merayakan jodoh yang belum kunjung datang :(


Dari pinggir waduk Gajah Mungkur yang syahdu, Wonogiri, 12-13 Maret 2016

Yang diatas pohon, Manda nah.

All team lagi masang tenda.

Dwinda Mariska, M.Sc tapi celananya hansaplas-an






Manda lagi masak


Nasi goreng, mi goreng. Masakan standar camping


Pulaaang

Bonna

Bye bye waduk

Thursday, 21 January 2016

Iseng Doodling

Iseng.. Karena di setiap gambar punya cerita.
Ayah muda sedang menggendong anak perempuannya dan menggandeng anak lelakinya. Mau ke masjid. Romantis kan.
Penantian ini ceritanya. Suatu saat nanti bisa gandengan begini. Sama suami.
Kalau yang ini ceritanya tentang patah hati ~
Mimpi dulu aja, ke Berau, Nyelem. Kebayang indahnya.
Shopaholic
Gak tau mau kasih caption apa

Sunday, 17 January 2016

Nada Rindu

Di saat kita jauh
Di saat kita tak bersama
Percayalah bahwa aku ada
Detak waktu yang kita tunggu
Membisikkan tangga nada di hatiku
Jika terlintas dalam benakmu tentangku
Nyanyikanlah aku
Sebagaimana aku selalu menyenandungkanmu

Pada setiap irama dan bait doaku

Hutami Putri
Yogyakarta, 4 Maret 2015


Thursday, 14 January 2016

Mahar Bertema Pantai untuk Pecinta Pantai


Pembuatan mahar ini berawal dari permintaan oleh duo bijak yang saya ngefans sama mereka. Why? Bagaimana tidak, Mas Helmy, sebut saja guru PAI yang tausiyahnya selalu menentramkan hati siapa saja yang mendengarnya. Simple dan bijak, tapi dalem, Bro! Mbak Mun yang “nggak bisa diem” dan sigap siaga. Haha. Waktu dulu tinggal serumah (ciee serumah) sewaktu kami penelitian di Karimunjawa, Mbak Mun lah yang menjadi ibu rumah tangga bagi kami semua. Hehe. Ada saja yang dikerjakannya. Entah nyapu rumah, nyuci baju, apa aja lah pokoknya rajin banget. Duo yang sangat cocok menurut saya.

“Pengennya tema maharnya Biologi banget ya, Hut” kata Mas Helmy.
Sempat bingung juga mau dibikin apa. Jujur, selama bikin mahar dan frame-frame lain saya selalu tidak pernah terpikir hasil akhirnya akan seperti apa. Tapi saya selalu punya bayangan akan ada apa saja nanti di dalamnya, paling tidak temanya pasti. Tapi kali ini temanya pun luas. Biologi luas, Men. Di kampus saya saja biologi masih dibagi lagi menjadi minat yang berbeda-beda (zoologi, botani, mikrobiologi, ekologi, & genetika). Saya sempat terpikir ada gabungan ekosistem-ekosistem di dalam satu frame tapi akhirnya memutuskan temanya pantai saja. Kan Mbak Mun suka pantai dan senengnya Mas Helmy setuju. Mas Helmy mah terserah aja sama saya, dan saya suka banget sama pemesan yang “terserahan” gini. Itu artinya saya bisa berkreasi lebih bebas. Hihihi.

Barakallah Mas Helmy dan Mbak Munifah, semoga selalu menjadi duo bijak idola saya. Selalu diberi keberkahan dalam menjalani hari hari sekarang dan yang akan datang dan menjadi kekasih sejati tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Amin amin amin ya rabbal ‘alamin.







Wednesday, 6 May 2015

Bersiap untuk Penelitian (lagi)

Research?
Tidak terasa waktu sangat cepat berlalu. Saya tengah menjalani kuliah semester dua dan sudah harus menyusun sebuah proposal penelitian. ya, tesis adalah sebuah karya agung dari seorang mahasiswa pascasarjana. Penelitian tentu bukan hal yang pertama saya lakukan, namun menyusun sebuah rencana penelitian tetap saja hal yang tidak mudah seperti membalikkan telapak tangan. Karena belajar adalah proses. Maka kesungguhan dan semangatlah yang bisa menguatkan saya.

Bismillahirahmanirahim

Sesuatu yang diawali dengan niat baik pasti akan selalu mendapatkan kebaikan, mendapatkan jalan yang baik, serta dipertemukan dengan orang orang baik. Sebuah motivasi yang menentramkan hati dari seorang dosen metodologi penelitian fakultas saya. Aamiin :)

Buku Catatan Penelitian. Saya harus merenovasi buku ini dulu supaya mendapat "mood penelitian". Agak rempong memang, tapi siapa lagi yang bisa menyemangati kita kalau bukan diri kita sendiri? :)



Masih Kosong

Saturday, 14 February 2015

Term Paper

Sekarang pukul 23.28 23 maret 2015
Menulis sedikit tentang beban hidup hari ini. Eh. Hehehe. Beban hidup yang sangat sangat saya nikmati. Kemarin malam kepala terasa pusing (sakit kepala sungguhan) padahal harus menyelesaikan tugas kuliah yang cukup memeras otak. Daripada tambah pusing dan memburuk, jdi saya putuskan untuk istirahat. Alhasil tugas saya baru bisa diselesaikan malam ini (telat) dengan kondisi badan yang sudah sangat lebih baik dari sebelumnya. Alhamdulillah.

Tugasnya apaan sih sampe serius banget ngerjainnya? Wajib! Harus! Serius itu artinya sungguh sungguh. Kenapa harus seserius itu? Semua tugas harus dikerjakan dengan serius. Tapi tugas yg satu ini punya tantangan tersendiri. Ngerjainnya pake seni. Seni menghadapi tekanan dan seni melatih kesabaran. Rata rata semua tugas yang diberikan dosen memang ga menuntut kuantitas tapi kualitas. Justru itu yang penting dan tidak mudah, yaaa, bikin kita berjuang lah yaa. Misalnya tugas term paper yang bru aja saya selesaikan ini. Hasilnya sih 3 lembar doang. 1 halaman cover, 1 halaman isi, 1 halaman daftar pustaka. Gitu doang tapi ngerjainnya bisa membutuhkan waktu yang lamaaa.. prosesnya itu lho.. panjaaaangg. Mulai dari cari jurnal internasional (minimal lima buah). Kelimanya harus memiliki tema yang senada, iya senada. Kalau saja kalian ikut nyari, cari lima jurnal dengan tema senada itu bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Bagaikan cari jodoh. Gampang gampang susah. Hehe.. sedikit berlebihan sih... kemudian dari lima jurnal senada itul barulah kelimanya disintesis jadi satu. Sintesis yaa, bukan deskriptif.

Sudah cari jurnal - lalu print - lalu baca jurnal pertama, kedua, ketiga, ternyata jurnal keempat dan kelima ga sesuai karena ada unsur modelling (syaratnya begitu, ga boleh modelling) yaudah sih, ngerjain sebagus apa pasti besok tetap salah.. lanjutin aja deh. Bukan aku banget sih ini. Tapi mau gimana..
Masih banyak hal lain yang harus dikerjakan. Udah tahu salah, tapi masih tetep aja dilanjutin. Kalau udah gini, minta maafnya berat, soalnya ke diri sendiri. Eehh.. mangats!

Thursday, 28 August 2014

Kuliah Perdana Pascasarjana

Setelah lulus mengenyam bangku kuliah Pendidikan Biologi di Universitas Negeri Yogyakarta saya memutuskan untuk melanjutkan sekolah lagi di Program Studi Biologi Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Memang masih satu bidang, tapi S1 saya pendidikan sedangkan S2 yang sekarang adalah ilmu murni. Kenapa tidak kuliah pendidikan lagi saja? Kenapa lebih memilih ilmu murni? Karena selama saya S1, mata kuliah pendidikan selalu menjadi mata kuliah yang membosankan. Walaupun pada akhirnya selalu saya rindukan. Hehehe. Dan banyak pertimbangan lain tentunya. Motivasi saya apa untuk melanjutkan sekolah lagi? Hmmm, bingung juga kalau ditanya begini. Karena ada kesempatan. Kata orang, kesempatan itu tidak datang dua kali. Pastinya untuk meningkatkan ilmu dan kualitas diri. Dari hati terdalam, ingin bisa lebih bermanfaat bagi orang lain, bagi Indonesia. Dengan segala permasalahan Indonesia yang pelik ini, saya ingin jadi salah satu orang yang berperan serta memajukan Indonesia khususnya di bidang Biologi. Keanekaragaman Indonesia sangat berlimpah tapi penggunaannya belum seluruhnya berkelanjutan. Ini kan ngeri. Marakke sedih. Iyasih, semua orang butuh makan. Perut butuh diisi. Tapi ya jangan merusak bumi. Kalo bumi rusak, kita mau tinggal dimana? Hehe.

Rabu, 27 Agustus 2014 adalah hari dimana saya kuliah perdana di Grha Sabha Pramana. Kuliah ini diperuntukkan bagi seluruh mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada. Kuliah yang istimewa karena ada pidato ilmiah dari Dr. (H.C.) Dahlan Iskan (Menteri BUMN). Tema pidatonya adalah “Memperkuat Sinergi Pemerintah, Universitas, dan Bisnis (Triple Helix) untuk Pembangunan Indonesia”. Pidato ilmiah ini lebih seperti melihat acara Mata Najwa di televisi. Ternyata Pak Dahlan Iskan memang seru! Hehehe. Pak Dahlan tampak sederhana dengan sepatu olahraganya, humoris, dan spontan. Begitu tuh kalau orang hebat sudah berbicara. Semua mata tertuju padanya dan hal yang dibicarakan menjadi sangat menarik karena membahas permasalahan-permasalahan aktual di Indonesia dan saya rasa semua mahasiswa di ruangan ini pasti ingin berkontribusi untuk Indonesia lebih baik. Pak Dahlan sangat mengapresiasi ide-ide kreatif dari penemuan-penemuan mahasiswa UGM dan tak menutup kemungkinan BUMN akan bekerja sama dengan UGM dari penemuan tersebut.

Salah satu hal yang dibicarakan Pak Dahlan adalah tentang BBM yang langka dan alternatif mengatasinya. “Siapa yang tahu jumlah pertumbuhan motor di Indonesia?” tanya Pak Dahlan. Semua mahasiswa diam. “Kalau ada yang bisa jawab saya beri satu juta”. Mahasiswa celingak-celinguk. “Kok diam semua ini? Tidak ada yang tahu ya? Ya sudah saya tambah jadi satu setengah juta”. Seluruh mahasiswa tertawa. Kemudian Pak Dahlan meminta 4 orang maju dan pertanyaan itu hampir benar dijawab oleh dua orang mahasiswi yaitu delapan juta pertahun. Pak Dahlan kemudian memberikan uang satu setengah juta tadi kepada dua mahasiswi tersebut.

Berdasar dari kegelisahan yang disebabkan oleh permasalahan-permasalahan di Indonesia. Pak Dahlan menantang mahasiswa untuk memberikan idenya apa yang akan ditemukan atau diteliti pada program pascasarjana ini sehingga dapat bermanfaat untuk orang banyak dan untuk kemajuan Indonesia tentunya. Pak Dahlan kembali memberikan hadiah secara spontan, kali ini lima juta rupiah. Jumlah yang tidak sedikit. Hadiah jatuh kepada seorang mahasiswa jurusan teknobiologi kalau tidak salah, yang ingin mengatasi permasalahan limbah logam (limbah B3) dalam pembuatan sepatu/tas berbahan dasar kulit sapi sehingga tidak mencemari lingkungan. Semua yang ada di ruangan bertepuk tangan dan tertawa karena penyampaiannya yang sangat mantap dan percaya diri. Gak malu juga minta selfie sama Pak Dahlan. Uuu, mauu.

Saya bangga bisa jadi salah satu mahasiswa yang duduk dalam ruangan ini. Dengan tiga ribu lebih mahasiswa lainnya yang akan jadi orang yang mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Kita semua tentu berharap masih bisa melihat hijaunya padi di sawah, hijaunya rumput di savanna, indahnya gunung, pantai, kicau burung dan semua kekayaan Indonesia lainnya. Indonesia harus lestari. Indonesia harus hijau. Indonesia harus makmur. Dan selalu seperti itu. Semoga. Aamiin.

Pidato Ilmiah dari Bapak Dahlan Iskan

Foto yang dibuang sayang. Hehehe. Afika dan Saya

Tuesday, 14 January 2014

Shawl Me: Mencoba Peruntungan di Dunia Bisnis Lewat Online Shop


Hi..

Kali ini saya memberanikan diri untuk mencoba peruntungan di dunia bisnis seorang diri khususnya di dunia fashion yaitu pasmina/ jilbab/ hijab/ shawl/ scarf. 
Itung itung mengisi waktu luang dan sarana menyalurkan hobi. Hihi.
Buat yang mau berkunjung ke online shop saya boleh lho. Silakan ke blog atau instagram:
instagram: shawlmeshawl

Silakan dibeli kakak ^^


 

  

Monday, 13 January 2014

Generasi Socmed

Well, 2014 nih bro!
Lo belum gaul kalau belum galau di socmed.
Hahaha.
Lo tau ngga sih ...
(males banget nganggo  lo gue lo gue).
Jadi ceritanya saya punya beberapa akun di social media, mulai dari facebook, twitter, bbm, whatsapp, line, kakaotalk, skype, path, pinterest, instagram, dll sampai lupa apalagi. Tapi dari sekian banyak, cuma beberapa aja yang aktif. Pada intinya masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Segalanya serba dimudahkan dalam urusan komunikasi.

Biasanya orang-orang rajin banget update status. Apa apa diupdate. Lagi di bla bla bla nih with 6 other, terus check in foursquare. Terus di twitpic pake hastag #selfie atau posting instagram pake hastag #ootd, terus ganti DP BBM, terus ganti profile photo whatsapp, terus posting di path, terus terus terus ......  Ribet banget sih hidupnya.

Social media bermanfaat banget sebenernya, terutama buat tukang kepo kaya saya. Semua yang di post di social media berarti konsumsi publik. Orang bebas melihat informasi tersebut. Harus terima resiko kalau post tersebut dikepoin, atau dikomenin. Hahaha. Kepo tuh asik tau, harus hati-hati sama tombol like, reply, retweet, dan sebagainya. Yo gawat aja kalau lagi kepo foto orang terus kepencet like. Padahal fotonya udah diupload 2 tahun lalu. Atau yang lebih asik itu, liat foto orang yang beda banget sama dulu atau foto orang yang beda banget sama di dunia nyata. Bisa ngikik dewe. Tapi saya sarankan kalau lagi galau mendingan menghindari deh yang namanya social media. Yo tapi terserah ding. Wong bebas kok.

Kalau saya seperlunya aja, yang penting bisa lucu-lucuan, bisa komunikasi, dan bisa menjalin silaturahmi.

Di zaman yang serba maya ini, kalau suatu saat ada pak pos yang mengetuk pintu rumah sambil bilang : “Atas nama Hutami Putri, ini ada kiriman surat dan paket” kayanya seru juga.
Anyone?

......

Tuesday, 7 January 2014

Fix My Reply Button in Blogger Comments

First Post in 2014

Hi there! :D
Lama ga ngeblog.
Pertama buka email ada yang tanya tentang lama perjalanan menuju Pantai Greweng hasil baca blog saya. Lalu langsung saya balas. Hehe, jadi tertarik lagi buat nulis. Lagian saya lagi selo sembari menikmati predikat fresh graduate (baca: pengangguran) saya. Hiks. Setelah buka blog ternyata ada beberapa comment baru di Post saya tentang Pantai Greweng. Tapi, pas saya mau balas satu-satu comment tersebut saya baru "ngeh" kalau reply button-nya ga ada. Jadi selama ini saya balas comment itu sama kaya comment ke blog saya sendiri. Zzz banget. Hiks. Saya sedih. Kemudian saya googling dan nemu tutorial untuk memunculkan reply button dengan sedikit ngutak-atik template. Tadinya saya takut. Gimana kalau template saya jadi kenapa-kenapa. Tapi itu hanyalah kekhawatiran yang berlebihan. Kan templatenya bisa dibackup -_-. Setelah saya mengikuti tutorial tersebut ternyata it's works! Saya bahagia, gak jadi sedih. Bahagia itu sederhana. Hehehe.

Bagi yang menemui masalah yang sama. Ini nih linknya. 


Monday, 20 May 2013

Pantai Greweng, Keindahan Yang Tersembunyi



20 Mei 2013

Apa sih yang terpikir di benak kalian kalau ada orang menyebut kata “Jogja”? Jogja itu kota pelajar, Jogja itu kota wisata, dan bagi mahasiswa rantau yang pernah mengenyam pendidikan di Jogja, Jogja itu ngangenin banget! Katanya sih. Sebagai penduduk pribumi Jogja, rasanya tidak berlebihan kalau saya bangga sama kota ini.

Sebagai kota wisata, wajar kalau Jogja punya tempat yang indah, lucu, unik, dan menarik. Hal ini tentunya yang menjadi alasan bagi para wisatawan tertarik datang ke Jogja. Dari segudang tempat wisata yang bertebaran di Jogja, wisata alam banyak menyuguhkan keindahan yang tiada duanya, misalnya pantai. Kalau saya sebut Pantai Greweng? Sudah adakah yang sekedar pernah mendengar namanya? Atau malah sudah pernah berkunjung ke sana? Yap. Pantai ini bagus banget.

Pantai Greweng terletak di Kabupaten Gunungkidul. Dari Pantai Wediombo, Pantai ini bisa dicapai dengan berjalan kaki karena memang belum ada jalan yang bisa dilalui dengan mengendarai motor ataupun mobil.

Jumat, 17 Mei 2013 saya berkesempatan mengunjungi Pantai Greweng bersama teman-teman kelas. Perjalanan dimulai dari kampus (FMIPA UNY) dengan peserta (dih peserta) sebanyak 12 orang. Okay, sebagai gambaran, Pantai Greweng memiliki pasir putih, ombak besar, dan langit yang biru. Apa bedanya dengan pantai yang lain? Sama saja sih, tetapi Pantai Greweng masih sangat sepi sehingga berasa pantai pribadi. Pantai ini diapit dua tebing. Di antara dua tebing tersebut terdapat sungai yang mengalir di kala musim penghujan. Dan di Pantai ini belum ada fasilitas seperti kamar mandi, tempat makan, penginapan. Jadi, pastikan kalian tidak lupa membawa perlengkapan yang kalian butuhkan selama di sana mengingat di sana tidak ada fasilitas seperti pantai-pantai yang sudah dikelola.

Saya dan teman-teman mampir dulu ke rumah salah seorang teman kami  (Naya) sebelum ke lokasi. Sekedar informasi, di rumah Naya susah sinyal. Hanya provider tertentu saja yang ada sinyalnya. “Apalagi Pantai Greweng” kata Naya. “Jangan harap ada sinyal di sana. Nikmati aja”. Waktu itu, aku pinjam hape temen untuk mengirim pesan ke orang tua supaya tidak khawatir. Biar ada sinyal hapenya harus dimasukkan gelas. Ajaib kan?

Oh ya, kami ke greweng mau camping lho. Bukan sekedar mampir terus pulang. Bagi saya, ini adalah kali ke dua saya berkunjung ke greweng. Tapi ini adalah pengalaman pertama bagi saya camping di sana. Kami semua berangkat ke lokasi setelah sholat magrib, sekitar pukul 18.45 WIB. Iya, hari sudah gelap waktu itu, so, senter jadi peralatan wajib yang harus dibawa.

Perjalanan dimulai dari rumah Naya menuju Pantai Wediombo. Setelah itu motor dititipkan. Di sana memang ada lokasi penitipan motor yang buka pada malam hari (biaya penitipan 5 ribu per motor). Sebelum berjalan ke Pantai Greweng kami berdoa bersama terlebih dahulu. Memantapkan diri kami masing-masing untuk meniatkan kebaikan. Lalu, kami berangkat. Go go go! Perjalanan memerlukan waktu sekitar 1 jam. Jangan membayangkan jalan menuju  lokasi adalah jalan halus mulus. Untuk mencapai lokasi kami harus mendaki gunung lewati lembah. Hehehe. Iya lho bener. Mendaki bukit karena memang lokasi bukit kapur. Jalan yang dilalui adalah jalan tanah yang kalau hujan turun lengketnya minta ampun. Di sekitarnya terdapat tanah tanah yang ditanami warga dengan kacang tanah, jagung, dan ketela. Kalau musim hujan tiba tentu saja ditanami padi. Sesekali kami menemukan sapi dan kambing yang diikatkan pada kayu seadanya. Hebat sekali tempat seperti itu digunakan untuk beternak.

Perjalanan ke lokasi memang memerlukan perjuangan ekstra. Keringat bercucuran. Semua tenaga dikerahkan. Kami hampir kesasar dua kali. Hahaha. Gelap sih. Terkesan horor. Saya sempat akan mendokumentasikan perjalanan malam itu, tetapi dilarang oleh teman saya. Gelap katanya, mending tidak usah saja. Okelah, saya hanya bisa mengangguk pasrah, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Penampakan misalnya. Hehehe.

Setelah perjalanan panjang yang melelahkan selama satu jam, akhirnya sampai juga kami di lokasi yang kami tuju. PANTAI GREWENG AAAAAAAAAAAAAK! Tapi gelap sih, ga kelihatan apapun. Cuma suara debur ombak yang syahdu. Lalu tenda dipasang, api dinyalakan, dan kopi di seduh. Lalu kami menyanyi bersama diiringi petikan gitar sebisanya. Bakar-bakaran malam itu disponsori oleh ketela dan arang yang dibawa salah satu teman kami, Pramu. Niat banget kan? Ketelanya manis deh. Seplastik besar mie instan punya anak anak juga dimasak. Makanan ringan dikeluarkan. Dan yang paling penting adalah kebersamaan. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Sampai gerimis pun turun rintik-rintik. Kami cepat cepat ambil air wudhu di sungai dan sholat isya. Sampai hujan menderas, kami semua selesai mendirikan mantel untuk peneduh dan masuk di dalam tenda. Di dalam tenda panasnya minta ampun, sumpek, dan hujannya merembes. Hahaha. Tapi bagi saya, perjalanan tadi hampir membuat badan saya remuk. Karena sudah lelah saya cuek dengan semua keadaan malam itu. Bodo amat. Yang penting tidur dan besok pagi bisa bermain di pantai.

Pagi-pagi sekali kami bangun dan menghirup udara pantai. Pantai banget. Menemui sisa sisa hujan semalam. Lalu kami sholat subuh. Lalu masak makanan seadanya yang gimanapun rasanya tetep aja nikmat. Matahari mulai meninggi, saat yang tepat mengambil gambar. Menuju pantai dan bermain main. Sayang, ada salah satu teman kami yang sakit (Selvi). Kayanya sih masuk angin. Duh.

Sambil Selvi tidur dan memulihkan badan, kami bermain main di pantai. Main pasir, main air, olahraga, koprol juga hahaha. Para cowok lebih memilih memancing di sungai. Ga dapet ikan aja senengnya minta ampun. Tapi akhirnya dapet juga, kecil banget. Kayanya dilepasin lagi deh. Coba mancingnya bukan pake kode, tapi pake uang seratus ribuan barangkali dapet ikan yang lebih gede.  Hahaha. Ya, jangan melihat dari hasil sih, tapi seberapa besar usaha yang kita lakukan. Eciyeeh. Semangat ya mancingnya! Para wanita mah, foto-foto aja deh. Ngeksis.

Kami akhirnya memutuskan pulang setelah Selvi bangun dan masih pusing-pusing. Setelah tenda dilipat, semua peralatan dikemas, dan sampah dibawa kembali, kami melakukan perjalanan pulang. Kali ini kami memotong jalan sehingga tidak sejauh waktu berangkat. Lalu sampailah di parkiran dan menuju rumah Naya. Sesampainya rumah Naya disambut kedua orang tua Naya dan teh hangat. (Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?). Setelah mandi dan berkemas, kami dimasakin sama Naya dan orang tuanya, terus disuruh makan. (Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?) Habis makan kok ngantuk. Tidur bentar. (Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?)

Hahaha. Seru banget holiday kali ini. Holiday tanpa sinyal adalah sebenar-benar holiday. Bye bye Greweng. Pesonamu memang wow. Jogja memang istimewa.

Lain waktu, kemana lagi yaaa.

INGET SKRIPSI WOOOY :D

Sisa Perapian Semalam
Refleksi Sungai
Tenda Kami
Dari Sebalik Pandan
Pesona Pantai Greweng
Pasir Pantai Greweng
Cangkang yang Ditinggalkan
Bubbles of Happiness
Istana Pasir Tita
Breathe the Air
Ala Model
Ladies
Mancing 
Aa Koti dan Naya. Uhukk
Penakluk Pantai Greweng :P
Perjalanan Pulang